Sebenarnya saya sudah pernah ke Bromo jaman masih muda dulu. Hahahaha. Semasa masih kuliah. Dan beberapa bulan yang lalu, saya tiba-tiba kepengen ke Bromo lagi. Kangen gitu pengen ke padang pasirnya. Alhasil saya ke sana lagi bersama teman-teman. Bedanya sih kalau kunjungan yang kedua ini, saya tidak bisa ke penanjakan 1 karena saat itu sedang Bromo sedang crowded dengan kunjungan wisatawan lokal dan interlokal (Hah?) dan mancanegara. Macet luar biasa.


Akhirnya kami hanya bisa ke penanjakan 2 yang menurut saya justru lebih oke. Dan kebetulan juga saya tidak bisa naik ke kawah, karena sumpah luar biasa banget ramainya. Dulu sewaktu ke Bromo saya tidak bawa tuh perbekalan seperti masker dan kacamata, tapi kemarin sepertinya dua benda itu harus dibawa. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi karena debunya bisa bikin perih. Oh iya, Alhamdulillah juga saya selalu bawa obat tetes mata, jadi bisa deh dipake nyegerin mata dikit. Kalau yang gak kuat dingin, sarung tangan dan syal harus wajib dibawa. Tapi kalau saya sih mending minum antangin sejak dari rumah terus nyampe di Bromo minum lagi 2 sachets. 



Tidak semua orang memahami dan mengerti keadaan kita. Bagaimana kita telah sampai pada titik ini. Apa saja yang telah kita lewati. Kejadian-kejadian apa yang telah membentuk kita menjadi pribadi kita yang sekarang.



Tidak perlu memaksakan orang lain untuk menyukai kita. Menyukai segala kekurangan kita. Atau membuat mereka bertahan untuk tidak menjadikan kekurangan kita sebagai bahasan dan pembicaraan di belakang punggung kita. Biarkan saja, jika mereka tidak bisa menerima kekurangan kita. Biarkan saja, jika mereka memilih untuk mengubah sikap. Biarkan saja, jika mereka memperlakukan kita seperti biasa meski dalam hati mereka tidak menyukai kita.



Tidak perlu bersedih. Tidak perlu cemas. Jika kita bisa menerima segala kekurangan mereka maka tidak perlu berharap agar mereka juga menerima kekurangan kita. Fokus saja menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Fokus saja menyembuhkan luka diri. Fokus saja menguatkan hati. Fokus saja belajar tentang ketulusan dan kesabaran. Fokus saja agar kita juga tidak membicarakan kekurangan mereka seolah kita adalah manusia sempurna yang tidak punya kekurangan.



Mereka bisa menilai, menghakimi, berasumsi, dan berspekulasi sesuai dengan pengalaman-pengalaman yang membentuk mereka. Pikiran-pikiran mereka sebebas pemikiran-pemikiran kita. Semua di luar kontrol kita. Mereka adalah juga adalah hasil dari bentukan kejadian-kejadian masalalu mereka. Hormati saja. Diam saja. Jika itu adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Menjaga diri dan menjaga hati serta belajar untuk melihat siapa sajakah yang patut dipercaya dan siapa yang hanya perlu menjadi teman saja.


Kita tidak bisa menuntut orang lain agar sama seperti kita. Kita tidak bisa menuntut orang lain memiliki sifat dan sikap yang sama. Bila kita orang yang mudah memaafkan orang lain, maka jangan berharap orang lain memaafkan semudah kita memaafkan mereka. Bila kita selalu mendahulukan kepentingan orang lain, jangan berharap orang lain akan memprioritaskan kita.

Menjelang bulan Ramadhan ini, sejujurnya saya sendiri masih banyak sekali kekurangan. Terlebih urusan ibadah. Menjelang ramadhan ini, saya tidak tahu mengapa perasaan ini muncul lagi. Sangat kontradiktif dengan tulisan saya yang sebelumnya, dimana saya mengatakan bahwa saya tidak menuntut apapun. 

Dalam hati kecil saya, saya masih mengharapkan dia mengucapkan maaf dengan pantas serta mengucapkan terima kasih dengan setulusnya. Karena saya sudah melakukan sesuatu yang tidak sesederhana pinjam meminjam bolpen dan dia juga tidak hanya sekedar mematahkan penggaris atau pensil.

Ucapan terima kasih dan maaf itu hanya sebagai cara agar usaha yang saya lakukan serta perjuangan yang saya lakukan bersama dia dianggap dan dihargai. Saya tidak meminta uang atau hadiah. Saya tidak meminta dia untuk memilih saya sebagai istrinya. Saya bahkan tidak meminta dia menjaga perasaan saya ketika dia dekat dengan perempuan lain di depan mata saya.

Menyakiti hati orang memang tidak pernah menjadi sesuatu yang tidak rumit dan tidak beresiko. Ketika saya melihat diri saya sendiri yang seperti hari ini. Saya sadar bahwa menyakiti hati orang bisa sangat melukai, bisa sangat fatal mempengaruhi kehidupan orang lain, lukanya terbawa sampai nanti. Dan melukai hati orang bisa mengubah orang lain menjadi orang yang bukan kita kenal sebelumnya.
Perjalanan dimulai dari Sidoarjo ke Surabaya, saya memilih kendaraan yang murah dan mudah yakni kereta komuter. Dengan tiket seharga 4000 rupiah, saya sudah sampai ke stasiun gubeng lama jauh sebelum jam keberangkatan kereta Mutiara Selatan. Oh iya karena kereta komuter berhenti di stasiun gubeng lama dan kereta Mutiara Selatan berangkat dari stasiun gubeng baru, kita harus berpindah stasiun bisa menggunakan becak atau jalan kaki. Kalau kemarin sih, saya minta tolong ke petugasnya buat nyebrang melewati rel kereta yang sekarang di pagar. Hahahaha. Ngerayu dikit-dikit.


Setelah berhasil menyebrang ke stasiun gubeng baru yang memang diperuntukkan untuk kereta bisnis dan eksekutif, saya memesan makan malam untuk dimakan di kereta. Tidak lama kemudian kereta Mutiara Selatan sudah siap di jalurnya. Saya luar biasa terkesan dengan kemajuan PT KAI dalam menciptakan image baru sebagai transportasi massal yang aman dan nyaman. Perjalanan ke Bandung pun dimulai. Tuttt tuuuutttt, siapa hendak turut?



Seperti yang tertera di tiket, kereta South Pearl berangkat jam 7 malam dan sampai di stasiun bandung jam 10 pagi. Huwooooo. Pantat sampai tepos. Alhamdulillah perjalanan berjalan lancar. Segera setelah sampai di stasiun, saya bersih diri di toilet. Gak bisa dibilang bersih diri sih, karena Cuma gosok gigi, cuci muka dan ganti baju. Saya sengaja gak check in ke hostel dulu sih karena mengejar waktu untuk ke Ciwidey. Tepat jam setengah 11, teman saya sudah menjemput di pintu keluar dan cussss makan pagi.




Makan pagi sengaja ke Nasi Bancakan di Jalan Trunojoyo. Suasana rumah makannya ramai dan antri ngambil nasi dan lauknya. Believe me! Paru gorengnya enaaaaaaakkkkk banget. paru goreng terenak yang pernah saya makan selama saya hidup. kalau ke Bandung, saya mau kesini lagi. Hahahaha. Setelah makan pagi, langsung berangkat ke Ciwidey.



Perjalanan menuju kawah putih Alhamdulillah lancar meskipun macet sedikit. Di kawah putih, mobil yang kami kendarai sengaja di parkir di tempat parkir bawah karena kalau tempat parkir yang disediakan di atas harus membayar 150 ribu. Dari tempat parkir, untuk menuju ke kawah putih harus mengendarai angkot yang perorangnya harus membayar 15 ribu. Untuk tiket masuknya 18 ribu. Di pintu masuk tangga ke bawah menuju kawah, pengunjung sudah diingatkan untuk menggunakan masker. Saya sebagai penderita asma, juga sedikit was-was. Sampai mendekati kawah dan akhirnya di pinggiran kawah, saya masih bertahan. Alhamdulillah.



Kawah putih indaaaaaahhh banget. Pantes yah banyak yang prewedding disini. Setelah berfoto-foto di  spot yang bagus akhirnya pertahanan saya jebol. Tenggorokan jadi aneh dan rasanya seperti dicekik. Napas sudah setengah-setengah. Dada saya mulai sesak. Teman saya sampai takut, dan mengajak saya kembali ke atas menjauhi kawah. Alhamdulillah, setelah berjalan cukup jauh sesak napas saya berangsur menghilang. Alhamdulillah ya Allah.

Dari kawah putih, kami langsung menuju Kebun Teh Rancabali. Baguuusss sekali tempatnya dan gratis. Setelah berfoto-foto, kami sempat berkeinginan ke Situ Patenggan tapi tidak jadi dan memutuskan untuk check in di hostel.




Akhirnya kami kembali ke kota Bandung yang macet luar biasa dan akhirnya bisa check in sekitar jam 11 malam. Hostel yang kami booking adalah hostel ala-ala backpacker, namanya Chez Bon Hostel yang terletak di jalan Braga. Hostelnya bersih, saya overall suka stay disana meskipun semalam saja. next time kalau ke Bandung lagi, insya Allah stay disana lagi. Hehehehee.


Keesokan harinya saya harus mengejar kereta ke Jakarta. Sebenarnya niat awal ke Jakarta adalah ingin beli Burger King hhahahahahaha dan mampir ke kosan temen. Akhirnya karena waktu yang mepet, hanya sempat makan pagi dan kemudian cus ke stasiun Gambir untuk naik bus damri menuju Bandara Soekarno Hatta.

Diajak main ke Banyuwangi? Siapa yang tidak mau. Apalagi Banyuwangi sekarang makin gencar mempromosikan pariwisatanya yang oke banget. kemarin Alhamdulillah diberi kesempatan mengunjungi Teluk Ijo atau Green Bay di Banyuwangi.

Hari sabtu setelah maghrib, berangkat dari Sidoarjo mengendarai 2 mobil menuju ke Banyuwangi. Perjalanan panjang ini menjadi begitu menantang ketika kami menghadapi macet karena ada kecelakaan dan jalur harus dibuka tutup. Tapi Alhamdulillah tidak lama menunggu, kami bisa melanjutkan kembali perjalanan. Kami sempat beberapa kali harus bertanya ke penduduk bagaimana menuju ke Green Bay, karena hanya dengan berbekal pengalaman salah satu teman yang lupa-lupa inget dan GPS yang I don’t know lah. Dan sempat melewati jembatan kayu yang rapuh, serapuh hatiku. Aseeekkkkk. Akhirnya sekitar jam 5 pagi kami sudah sampai di pantai Rajegwesi.


Pantainya masih sepi dan mendung menutupi matahari yang harusnya sih sudah kelihatan. Waktu kami berhenti sholat subuh, hujan sempat mengguyur. Ombak dipantai ini besar dan melihatnya saja sudah membuat saya membayangkan bagaimana nasib kami kalau kami naik perahu ke Teluk Ijo. Dan akhirnya diputuskan kami memilih jalan darat. Yah benar, kami jalan kaki menuju ke Teluk Ijo.


Pengalaman yang benar-benar tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Dengan medan yang bagi saya menantang, melewati sawah, lumpur dan hutan, akhirnya kami selamat sampai pantai batu. Kaki sudah cenat cenut karena jalanan naik dan licin, namun karena keinginan untuk mandi di pantai membuat saya tidak peduli. Saya terus berjalan. Saya tidak peduli monyet, ular atau anjing atau apalah-apalah, yang penting saya sampai di Teluk Ijo.
 

Di Pantai Batu yang banyak batunya dan berpasir cokelat, di Teluk Ijo yang mana hanya terpisah semacam tebing, memiliki pasir yang putih dan warna air yang kehijauan. Bagus banget. ternyata di Teluk Ijo sudah ramai pengunjung. Seneng banget. indahhhhhh.


Setelah berfoto dan main air, kami memutuskan untuk kembali. Kami melewati jalan yang sama seperti saat kami berangkat. Wow. Bedanya saat pulang kami diguyur hujan deras melewati hutan. Berasa di film anaconda dan Jurassic park gitu. Hahaahahahaa. Perjalanan kembali lebih cepat dari yang kami bayangkan. Luar biasa deh pokoknya.

Jangan bilang traveler sejati kalau belum ke Teluk Ijo. Hahahahaha.
Powered by Blogger.