Tertuduh dan dituduh

Apapun itu yang namanya dituduh itu gak enak. Dituduh berbohong. Dituduh berselingkuh. Dituduh memakan. Bahkan untuk hal paling indah sekalipun, dituduh mencintai, juga terasa sangat tidak mengenakkan. Dituduh selalu berhubungan dengan sesuatu yang kita tidak lakukan atau justru itu memang yang sedang kita lakukan.

Salah satu yang tidak enak dan berhubungan dengan kata dituduh adalah dituduh memiliki suatu pemikiran yang bahkan sama sekali tidak muncul di kepala kita. Yup. Dituduh oleh orang lain bahwa kita akan melakukan hal tertentu pada saat atau pada kondisi tertentu.

Saya belajar komunikasi. Mengenai ilmu komunikasi dimana sebagai seorang komunikator dan komunikan dianggap terjalin komunikasi yang efektif bila salah satu indikatornya yaitu adanya pemahaman dan prediksi mengenai feedback yang akan diberikan oleh pihak lain. Prediksi ini terjadi apabila komunikasi yang dilakukan terbilang intens dan ketidakpastian didalamnya kecil. Misalnya komunikasi dengan orang yang sudah lama mengenal kita dan tahu bagaimana karakter dan sifat kita. Namun, saat ini saya belajar bahwa teori itu akan tidak terpakai bila berurusan dengan hati.

Hati. Siapa yang bisa memprediksi isi hati? Saya yakin hanya Tuhan yang tahu isi hati kita. Sering kali orang lupa bahwa prediksi itu tidak bersifat mutlak. Nilai kebenarannya bisa jadi hanya berapa persen tergantung berapa intens komunikasi yang terjalin hingga berpengaruh pada ketidakpastian yang ada dalam hubungan kedua manusia ini. Namun sekali lagi prediksi itu bahkan tidak akan sampai angka 100%.

Ketika prediksi itu diucapkan, apakah yang akan terjadi? Bisa jadi mempererat hubungan dan bisa juga justru menjauhkan. Karena pada saat anda mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran anda dan pada kenyataannya itu salah, anda sama seperti menuduh orang. Prediksi ini bisa juga dinamakan suudzon (bener ga tulisannya?), bisa dinamakan prasangka jugakah? Bagi saya itu bisa jadi prasangka bila sudah diungkapkan.

Prediksi ini tidak bersifat mutlak bahkan pada hubungan persahabatan, suami dan istri, kakak dan adik, apalagi presiden dan rakyatnya.

Apakah prediksi ini baik atau buruk? Baik, apabila dibarengi dengan kesadaran diri bahwa apa yang kita pikirkan belum tentu benar. Buruk kalau prediksi itu bisa merugikan kesehatan mental kita dan melukai perasaan orang lain. Bagi saya yang paling oke adalah dengan melihat semuanya secara menyeluruh dan cover both side, kalau ini teori di komunikasi massa. Selalu pertimbangkan option lain agar tetap mawas diri dan tidak berprasangka buruk pada orang lain.

Comments

Popular Posts