Gunting kuku dan kacang.

Saya bekerja di perusahaan multinasional yang sangat terkenal. Di daerah Pandaan. Pandaan itu dekat dengan Malang dan Surabaya. Yah pokoknya di tengah-tengah dua kota besar itulah.

Saya cukup menikmati pekerjaan saya yang dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Beberapa waktu yang lalu saya sempat memutuskan untuk sewa kamar kos di deket kantor, tapi itu saya urungkan karena setelah saya kalkulasi, biaya tinggal dikos akan jauh lebih banyak dari pada transport dari rumah ke kantor. Memang jarak dari rumah ke kantor cukup jauh dan ditempuh dengan 2 kali ganti angkutan umum.

Kalau ditanya capek? Ya pasti capek. Tapi entah kenapa saya sudah malas ngekos. Saya pengennya di rumah.

Otomatis banyak waktu yang saya habiskan di jalan. Dari naik angkot ke bis, banyak sekali hal yang saya dapat dan pelajari. Mungkin dari pekerjaan ini, saya tidak lebih banyak mendapat ilmu dibandingkan apa yang saya dapatkan di jalan. Di lapangan.

Beberapa waktu yang lalu saya pulang dari kantor jam 5 lebih dan melewatkan sholat maghrib sehingga harus men-jamaa’ di sholat isya’. Saya capek sekali karena hampir 10 jam menatap layar computer dan duduk di dalam ruangan. Saya berusaha tidak tidur karena sekarang saya lebih was-was setelah peristiwa kemalingan beberapa waktu yang lalu. Beberapa pedagang asongan menawarkan dagangan yang sangat bervariasi.
Sampai pada suatu waktu ada pedagang gunting kuku yang menawarkan gunting kuku biasa. Tidak istimewa sama sekali baik barang yang dijual maupun pedagangnya. Yang istimewa adalah bagaimana cara dia menawarkan barang dagangannya. Dia menjelaskan panjang lebar tentang kegunaan gunting kuku yang biasa itu. Dia bilang kalau ini bisa dipakai untuk kerokan, yang bagian ini untuk membuka kaleng, ini warnanya macem-macem dan lain sebagainya.

Awalnya saya merasa, ya ampun, jualan kok sesuatu yang semua orang udah punya di rumah masing-masing. Tapi pas mendengar apa yang ia jelaskan saya tersadar sendiri kalau pedagang ini lumayan pintar dan membuat banyak orang di bis yang saya tumpangi, membeli gunting kuku yang biasa itu.

Satu lagi, ada pedagang yang menawarkan kacang atom, tapi sumpah saya saluuuuuuttttt sekali dengan bapak-bapak itu, dia menawarkan kacangnya dengan tersenyum. Tersenyum yang benar-benar tersenyum. Saya pernah baca kalau ingin lihat ketulusan senyum seseorang lihatlah matanya. Apakah matanya ikut tersenyum atau tidak. Nah bapak itu tersenyum dengan matanya. Saya sampai tersentuh. Benar-benar tersentuh. Mencoba memahami apa yang bapak itu lakukan dan rasakan. Saya pelan-pelan merasa sangat bersyukur atas nikmat Allah SWT karena memberi saya kesempatan menjadi orang yang berkecukupan dan tidak harus menguras tenaga naik turun bis untuk menawarkan kacang seharga 1000 rupiah.

Karena bapak kacang itu, saya selalu berusaha untuk membeli sesuatu di bis. Sebagai bagian dari penghormatan saya terhadap pedagang asongan yang sudah membanting tulang untuk keluarganya. So cliché tapi saya benar-benar melakukannya. Membeli kacang 1000 atau buku seharga 5000, toh tidak akan membuat kita miskin.

Comments

Popular Posts